SANDYWARMAN.COM adalah sebuah situs web yang dibuat untuk tujuan berbagi ilmu tentang bahan ajar produktif akomodasi perhotelan, akuntansi, dan berbagai tips dalam membangun sebuah web. Mari saling berbagi ilmu untuk kemajuan kita bersama.

input Data Alumni Skawibha

Rabu, 31 Desember 2014

Laporan Karya Wisata ke Pura Pulaki

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tempat suci agama Hindu adalah Pura, Candi, Kuil, dan berbagai macam sebutan yang berlaku didaerah-daerah dimana agama Hindu berkembang. Untuk di Bali, Tempat suci Agama Hindu disebut dengan Pura. Pura dijadikan sebagai tempat untuk melakukan hungan dengan Tuhan. Pura-Pura yang ada di Bali pada khususnya dibangun di tempat-tempat yang diyakini memiliki tingkat kesucian yang lebih dan diarea yang tinggi dan asri.

Di daerah Bali terdapat banyak sekali pura yang sesuai dengan sebutannya bahwa Bali adalah pulau seribu pura. Keberadaan Pura tersebut dikelompokan menjadi beberapa kelompok sesuai dengan fungsinya yaitu Pura Umum, Pura Swagina, Pura Teritorial, dan Pura Kawitan. Pura umum juga diklasifikasikan menjadi 3 kelompok yaitu Pura Kahyangan Jagat, Pura Dang Kahyangan, dan Pura Pewayangan.

Pura Kahyangan Jagat adalah Pura yang dibangun sebagai stana dari Ista Dewata. Pura Dang Kahyangan adalah Tempat Suci yang dibuat untuk menghormati jasa para guru suci. Beberapa Pura yang tergolong dalam Dang Kahyangan adalah Pura Rambut siwi, Pura Tanah lot, Pura Pulaki, Pura Silayukti. Dari beberapa Pura yang tergolong Dang Kahyangan tersebut, maka disini penulis akan menguraikan tentang sejarah dari Pura Pulaki.
Pura Pulaki di Buleleng Bali
Pura Pulaki / Pulaki Tample

B. Rumusan Masalah
Terkait dengan latar belakang tersebut, maka penulis dapat merumuskan masalah yang akan dibahas yaitu:
- Bagaimana sejarah Pura Pulaki sebagai Pura Dang Kahyangan?
- Apakah upaya yang dilakukan untuk melestarikan Pura?

C. Tujuan
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui sejarah Pura Pulaki sebagai bagian dari Pura Dang Kahyangan dan untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan untuk menjaga kelestarian pura..

D. Waktu
Karya wisata ke Pura Pulaki telah dilaksanakan pada tanggal 27 April 2013 yang lalu.



BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Pura Pulaki

Sulit ditampik, lingkungan Pura Pulaki adalah sebuah kawasan suci yang bisa disebut sangat sempurna. Selain memiliki pemandangan alam menakjubkan, aura religius dan kesucian yang berpendar di kawasan pura dan sekitarnya akan terasa jelas, seakan masuk di sela pori-pori kulit. Sebagian umat yang sempat sembahyang ke pura itu bahkan kerap mengaku bulu tipis di lehernya sesekali akan tegak. Mungkin karena takjub yang berlebihan pada keindahan alamnya atau amat terkesan pada aura religius yang dirasakannya.

Pura Pulaki berdiri di atas tebing berbatu yang langsung menghadap ke laut. Di latar belakangnya terbentang bukit terjal yang berbatu yang hanya sekali-sekali saja tampak hijau saat musim hujan. Pura ini tampak berwibawa, teguh dan agung, justru karena berdiri di tempat yang teramat sulit. Apalagi pemandangan yang ditampilkan begitu menawan. Jika berdiri di dalam pura lalu memandang ke depan, bukan hanya laut yang bakal tampak namun juga segugus bukit kecil di sebelah baratnya yang berbentuk tanjung. Kera-kera yang hidup di sekitar pura ini, meski terkesan galak, juga menciptakan daya tarik tersendiri.

Pura Pulaki terletak di Desa Banyupoh Kecamatan Gerokgak, Buleleng, sekitar 53 kilometer di sebelah barat kota Singaraja. Pura ini terletak di pinggir jalan raya jurusan Singaraja-Gilimanuk, sehingga umat Hindu akan selalu singgah untuk bersembahyang jika kebetulan lewat dari Gilimanuk ke Singaraja atau sebaliknya. Namun jika ingin bersembahyang secara beramai-ramai, umat bisa datang saat digelar rangkaian piodalan yang dimulai pada Purnama Sasih Kapat. Sejarah Pura Pulaki memang tak bisa dijelaskan secara tepat. Namun, dari berbagai potongan data yang tertinggal, sejarah pura itu setidaknya bisa dirunut dari zaman prasejarah.  


Ketua Kelompok Pengkajian Budaya Bali Utara Drs. I Gusti Ketut Simba mengatakan, jika mengacu pada sistem kepercayaan yang umum berlaku di Nusantara -- sejak zaman prasejarah gunung senantiasa dianggap tempat suci dan dijadikan stana para dewa dan tempat suci para roh nenek moyang -- maka diperkirakan Pura Pulaki sudah berdiri sejak zaman prasejarah.  Hal ini merunut pada konsep pemujaan Dewa Gunung, yang merupakan satu ciri masyarakat prasejarah. Sebagai sarana tempat pemujaan biasanya dibuat tempat pemujaan berundak-undak. Semakin tinggi undakannya, maka nilai kesuciannya semakin tinggi. "Seperti Pura-pura di deretan pegunungan dari barat ke timur di Pulau Bali ini," kata Simba.

Di kawasan Pura Pulaki, di sekitar Pura Melanting, sekitar 1987 ditemukan beberapa alat perkakas yang dibuat dari batu, antara lain berbentuk batu picisan, berbentuk kapak dan alat-alat lain. Berdasar hal itu, dan dilihat dari tata letak dan struktur pura, maka dapat diduga latar belakang pendirian Pura Pulaki awalnya berkaitan dengan sarana pemujaan masyarakat prasejarah yang berbentuk bangunan berundak.

Di sisi lain, dilihat dari letak Pura Pulaki yang terletak di Teluk Pulaki dan memiliki banyak sumber mata air tawar, maka kawasan ini diduga sudah didatangi manusia sejak berabad-abad lalu. Kawasan Pulaki menjadi cukup ramai dikunjungi oleh perahu dagang yang memerlukan air sebagai bahan yang sangat diperlukan dalam pelayaran menuju ke Jawa maupun ke Maluku. Bahkan, kemungkinannya pada waktu itu sudah ada berlaku perdagangan dalam bentuk barter. Barang yang kemungkinan dihasilkan dari kawasan Pulaki adalah gula dari nira lontar. Ini didasarkan hingga kini masih ditemukan tanaman lontar di sepanjang pantai dari Gilimanuk ke timur, termasuk Pulaki.

Dari uraian itu, kata Simba, dapat diduga Pulaki sudah ada sejak zaman prasejarah, baik berhubungan dengan tempat suci, maupun sebagai tempat aktivitas lainnya. Hal ini berlanjut hingga peristiwa penyerangan Bali oleh Majapahit tahun 1343 Masehi. Dalam buku ekspedisi Gajah Mada ke Bali yang disusun Ketut Ginarsa tertulis bahwa pasukan Gajah Mada turun di Jembrana lalu berbaris menuju desa-desa pedalaman, seperti Pegametan, Pulaki dan Wangaya.

Menurut Simba, Pulaki juga pernah dijadikan pusat pengembangan agama Hindu sekte Waisnawa sekitar 1380 Masehi seperti tertera dalam buku ''Bhuwana Tatwa Maharesi Markandeya'' susunan Ketut Ginarsa. Data lain yang menyebut tentang Pulaki terdapat juga dalam buku ''Dwijendra Tatwa'' karangan Gusti Bagus Sugriwa. Di situ ada tertulis, "Baiklah adikku, diam di sini saja, bersama-sama dengan putri kita Ni Swabawa. Ia sudah suci menjadi Batara Dalem Melanting dan adinda boleh menjadi Batara Dalem Ketut yang akan dijunjung dan disembah orang-orang di sini yang akan kanda pralinakan agar tak kelihatan oleh manusia biasa. Semua menjadi orang halus. Daerah desa ini kemudian bernama Pulaki."

Data lain tentang Pulaki adalah ditemukannya potongan candi yang bentuknya seperti candi yang ada di Kerajaan Kediri. Ditemukan di Pura Belatungan tahun 1987. Dari data itu, maka kesimpulannya keberadaan Pura Pulaki sebagai suatu tempat suci sudah ada sejak zaman prasejarah dan menghilang setelah kehadiran Dang Hyang Nirarta dengan peristiwa dipralinakannya Pura Pulaki sekitar 1489 Masehi. Keberadaan Pura Pulaki tanpa penghuni secara sekala berlangsung cukup lama. Pura Pulaki menghilang dari penglihatan sekala dan daerah ini praktis kosong sejak 1489 sampai sekitar tahun 1920 atau selama sekitar 431 tahun. Namun sebelum itu, dari kurun waktu zaman prasejarah sampai dengan kehadiran Ida Batara Dang Hyang Nirarta tahun 1489, Pura Pulaki masih tetap sebagai tempat pemujaan, baik yang dilaksanakan orang prasejarah, orang Baliaga dengan Sekte Waisnawa yang dikembangkan Rsi Markandeya dan orang pengikut Tri Sakti dengan simbol tiga kuntum bunga teratai yang berwarna merah, hitam dan putih yang dipetik Dang Hyang Nirarta dari kolam yang diperoleh dalam perut naga di Pulaki.

Dipugar
Suatu daerah yang tak dihuni selama ini, sudah pasti menjadi hutan belantara dan hanya dihuni binatang buas, babi hutan, harimau, banteng dan lain-lainnya. Kendati begitu, menurut Simba, masyarakat Desa Kalisada dan beberapa desa di sekitarnya masih tetap setia ngaturang bhakti kepada Batara di Pulaki dengan naik perahu dari Kalisada. Namun saat itu Pura-pura itu sudah tak ada lagi, sehingga pemujaannya dilakukan pada batu-batu yang ada di sekitar Pura Pulaki yang lokasinya berada pada tempat sekarang ini.

Untuk itu, Simba menduga Pura Pulaki sebenarnya berada di dalam hutan, bukan di tempat yang sekarang ini. Lokasi pura yang sekarang diperkirakan sebagai tempat pengayatan karena warga tak berani masuk ke dalam hutan. "Karena tempat ini sudah dihuni binatang buas, sehingga tak mungkin masuk ke pedalaman," katanya.

Tahun 1920 Pulaki mulai dibuka yang ditandai dengan disewakannya tempat ini oleh pemerintah kolonial Belanda kepada orang Cina bernama Ang Tek What. Kawasan itu kemudian dikembalikan sekitar tahun 1950 yang selanjutnya dilakukan pemugaran-pemugaran terhadap tempat suci di kawasan itu. Pemugaran Pura Pulaki dan pesanakannya dilakukan setelah tahun 1950.
Menurut Simba, Pura Pulaki dan pesanakan, seperti Pura Pabean, Pura Kerta Kawat, Pura Melanting, Pura Belatungan, Pura Puncak Manik dan Pura Pemuteran, tak bisa dipisahkan.  Dilihat dari 7 lokasi Pura-pura tersebut dan sesuai konsep Hindu hal itu termasuk konsep sapta loka, yakni konsep tentang sapta patala, yakni 7 lapisan alam semesta.

B. Cara Melestarikan Pura Pulaki
Untuk melestarikan kebaradaan Pura Pulaki sebagai tempat ibadah adalah dengan melakukan berbagai upaya yaitu:
1. Melaksanakan Panca yadnya 
Menyelenggarakan yadnya di tempat suci selain sebagai wujud menyampaikan rasa terima kasih dan bakti umat kepada Tuhan / Ida Sang Hyang Widhi Wasa, pelaksanaan yadnya juga dapat dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kelesatian dan kesucian Pura. Dengan melaksanakan yadnya akan dapat membangkitkan kembali vibrasi kesucian pura secara niskala karena fungsi pelaksanaan upacara yadnya adalah menciptakan suasana yang magis yang penuh dengan kesucian.
2. Membangun tempat suci dan memelihara bangunan tempat suci
Selain melaksanakan Yadnya, maka umat diharapkan harus senantiasa menjaga keutuhan bangunan fisik tempat suci dengan jalan memperbaiki bangunan yang mengalami kerapuhan ataupun kerusakan.
3. Menjaga kesucian tempat suci 
Untuk menjaga kelestarian tempat suci haruslah dimulai dari memelihara kesucian pura. Cara menjaga kesucian pura adalah dengan melaksanakan butha yadnya serta umat diharuskan dapat mengendalikan diri dari trimala dan menumbuhkan Tri kaya parisudha yaitu berfikir yang baik, berbicara yang baik serta bertingkah laku yang baik.
4. Menjaga keasrian tempat suci 
Umat hindu diharapkan senantiasa menata lingkungkan tempat suci agar terlihat sejuk, indah dan menyenangkan. Untuk menciptakan lingkungan pura yang indah perlu dilakukan dengan penghijauan seperti menanam tumbuh-tumbuhan dan menatanya dengan baik.



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan tersebut maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
Pura Pulaki sudah berdiri sejak zaman prasejarah.  Hal ini merunut pada konsep pemujaan Dewa Gunung, yang merupakan satu ciri masyarakat prasejarah. Sebagai sarana tempat pemujaan biasanya dibuat tempat pemujaan berundak-undak. Semakin tinggi undakannya, maka nilai kesuciannya semakin tinggi. 
Data lain tentang Pulaki adalah ditemukannya potongan candi yang bentuknya seperti candi yang ada di Kerajaan Kediri. Ditemukan di Pura Belatungan tahun 1987. Dari data itu, maka kesimpulannya keberadaan Pura Pulaki sebagai suatu tempat suci sudah ada sejak zaman prasejarah dan menghilang setelah kehadiran Dang Hyang Nirarta dengan peristiwa dipralinakannya Pura Pulaki sekitar 1489 Masehi. Keberadaan Pura Pulaki tanpa penghuni secara sekala berlangsung cukup lama. Pura Pulaki menghilang dari penglihatan sekala dan daerah ini praktis kosong sejak 1489 sampai sekitar tahun 1920 atau selama sekitar 431 tahun. Namun sebelum itu, dari kurun waktu zaman prasejarah sampai dengan kehadiran Ida Batara Dang Hyang Nirarta tahun 1489, Pura Pulaki masih tetap sebagai tempat pemujaan, baik yang dilaksanakan orang prasejarah, orang Baliaga dengan Sekte Waisnawa yang dikembangkan Rsi Markandeya dan orang pengikut Tri Sakti dengan simbol tiga kuntum bunga teratai yang berwarna merah, hitam dan putih yang dipetik Dang Hyang Nirarta dari kolam yang diperoleh dalam perut naga di Pulaki.

B. Saran-saran
  • Sebagai umat hindu mari kita tingkatkan srada dan bhakti kita kehadapan Ida Sang Hyang Widhi dengan ikut serta menjaga kelestarian Pura yang ada dilingkungan tempat tinggal kita pada khususnya.
  • Tunjukan rasa terima kasih kita terhadap para guru suci dengan bertirta yatra dan bersembahyang ke tempat-tempat suci yang termasuk Dang Kahyangan.


0 komentar:

Posting Komentar

Hai Sob, berikan komentarmu dengan sopan n NO SPAM.
Dilarang membuat komentar yang sama pada artikel yang berbeda, karena dianggap sebagai SPAM maka akan dihapus. Trims